Thursday, October 20, 2011

Infotan: BENARKAH PENANAMAN VARIETAS UNGGUL BARU MENJADIKAN PETANI PADI INDONESIA MISKIN?


Sumarno - Puslitbangtan Bogor ,Pertanyaan tersebut cukup menggelitik pikiran peneliti tanaman pangan dan mungkin juga para pejabat Departemen Pertanian dan Dinas Pertanian, yang selama empat puluh tahun terakhir menganjurkan petani menanam varietas unggul berproduktivitas tinggi dan berumur genjah. Dari sisi pengamatan satu-dua orang petani tulisan SAd bisa saja benar. Perkenankanlah saya sebagai mantan Kepala Balai Penelitian Tanaman Pangan (1988-1995) dan mantan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (1998-2000), yang ikut bertanggungjawab atas keberadaan VUB, memberikan tanggapan terhadap tulisan tersebut atas dasar pengetahuan keahlian saya sebagai Pemulia Tanaman dan sebagai mantan manajer penelitian tanaman pangan.

Tentu saja pendapat dan pikiran antarorang boleh berbeda dan kebenaran tidak akan diputuskan dari tulisan ini. SAd memberikan tanda petik pada kata unggul, suatu istilah yang secara resmi digunakan di Departemen Pertanian, termasuk dalam SK Pelepasan Varietas. Makna unggul yang menempel sebagai ajektifa kata varietas, adalah menunjukkan dimilikinya satu atau lebih sifat unggul dari varietas yang bersangkutan, terutama sifat daya hasil gabahnya yang tinggi, di atas 5 ton/ha pada lingkungan normal yang optimal. Jadi varietas unggul memang memiliki keunggulan sifat daya hasil gabah, dan itu sudah terbukti dari peningkatan produksi beras nasional. Waktu dulu pada tahun 1960an, pada waktu belum ada varietas unggul baru, produksi beras nasional hanya sekitar 7 juta hingga 9 juta ton beras per tahun. Sekarang setelah ditanam VUB produksi beras meningkat menjadi sekitar 34 juta ton per tahun. Kita semua yang sudah ada pada tahun 1950-1960an, pasti merasakan betapa sulitnya untuk memperoleh beras pada saat itu. Keluarga kami ber-enam, hanya mampu memasak 1,5 liter beras per hari, selama bertahun-tahun, yang semestinya supaya cukup kalori dan kenyang perlu 3 liter sehari. Dari cerita banyak kawan, hal yang sama juga mereka alami. Ini semua terjadi bertahun-tahun antara tahun 1950 sampai tahun 1967, sebelum diterapkannya teknologi revolusi hijau yang dimotori oleh adanya varietas unggul yang benar-benar unggul produktivitasnya. Varietas Unggul Baru Memiskinkan Petani? SAd menyebutkan bahwa varietas baru, diberikan contoh: PB 5; Dara; Syntha; Remaja sampai kepada IR42; IR64, adalah sumber penyebab terjadinya kemiskinan petani padi Indonesia. Varietas Dara, Syntha dan Remaja bukan termasuk dalam golongan Varietas Unggul Baru (VUB), karena ke tiga varietas tersebut termasuk tipe berbatang tinggi, anakan sedang dan daya hasilnya di bawah 4 t/ha gkg. Varietas IR42 dan IR64 bersama-sama varietas unggul baru lain seperti Cisadane; Way Apoburu; Widas; Ciherang, banyak ditanam petani secara luas hingga kini, dan tidak benar telah memiskinkan petani. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa petani padi yang termasuk miskin adalah petani yang luas lahannya kurang dari 0,5 ha dan petani penggarap (pembagi hasil atau shared cropper) yang tidak mempunyai lahan. Petani padi yang luas lahannya kurang dari 0,5 ha dan petani penggarap ini jumlahnya sangat besar, lebih dari 80% petani padi di Indonesia. Berusahatani padi memang semestinya harus memiliki lahan minimal 2 ha, seperti halnya petani padi di Thailand (7 ha per KK), di Malaysia (4 ha/KK) atau di Australia (100-300 ha per petani). Petani padi Indonesia yang memiliki lahan 5 ha dapat memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp 54,7 juta sekali panen padi, bila petani memiliki 2 ha pendapatan bersihnya Rp 21,9 juta sekali panen (Tabel 1). Sebaliknya petani penggarap, yang memperoleh hanya 40% dari bagi hasil panen, setelah dikurangi ongkos produksi hanya memperoleh Rp 1,4 juta per 0,7 ha (Tabel 2). Adalah jarang petani penggarap berkesempatan untuk menggarap lebih dari 1 ha, yang terbanyak antara 0,2 ha sampai 0,7 ha. Jadi jelas bahwa kemiskinan petani padi bukan disebabkan oleh penanaman varietas unggul baru, tetapi disebabkan oleh sempitnya pemilikan lahan dan oleh tidak dimilikinya lahan sendiri.



http://www.sinartani.com/opini/agriwacana/721.html

No comments:

Post a Comment